"Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita" (HR. Bukhari)
Hadist di atas mugkin akan menimbulkan pertanyaan, apakan seorang muslimah tidak diperbolehkan mengurusi suatu urusan(bekerja)??
Hadist
tersebut merupakan komentar Rasulullah SAW tatkala sampai kepadanya
berita tentang pengangkatan putri Kisra oleh Raja Persia.
Sekalipun
teks hadist tersebut berupa kalimat berita (khabar), tapi pemberitaan
dalam hadist ini disertai dengan celaan (dzam) atas suatu kaum atau
masyarakat yang menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada seorang
wanita, berupa ancaman tiadanya keberuntungan atas mereka. Celaan ini
merupakan ‘qarinah’ (indikasi) adanya tuntutan yang bersifat ‘jazm’
(tegas dan pasti). Namun, ada beberapa kalangan yang meragukan
keshahihan hadist ini.
KARIR ISTERI RASULULLAH SAW:
• Khadidjah radhiyallahu anha
Islam tidak pernah mensyariatkan untuk mengurung wanita di dalam rumah. Tidak seperti yang banyak dipahami orang.
Rasulullah
SAW punya seorang isteri yang tidak hanya berdiam diri serta
bersembunyi di dalam kamarnya. Sebaliknya, dia adalah seorang wanita
yang aktif dalam dunia bisnis. Bahkan sebelum beliau menikahinya, beliau
pernah menjalin kerjasama bisnis ke negeri Syam. Setelah menikahinya,
tidak berarti isterinya itu berhenti dari aktifitasnya. Bahkan harta
hasil jerih payah bisnis Khadijah ra itu amat banyak menunjang dakwah di
masa awal. Di masa itu, belum ada sumber-sumber dana penunjang dakwah
yang bisa diandalkan. Satu-satunya adalah dari kocek seorang donatur
setia yaitu isterinya yang pebisnis kondang. Tentu tidak bisa
dibayangkan kalau sebagai pebisnis, sosok Khadijah adalah tipe wanita
rumahan yang tidak tahu dunia luar. Sebab bila demikian,
bagaimana
dia bisa menjalankan bisnisnya itu dengan baik, sementara dia tidak
punya akses informasi sedikit pun di balik tembok rumahnya. Di sini kita
bisa paham bahwa seorang isteri nabi sekalipun punya kesempatan untuk
keluar rumah mengurus bisnisnya. Bahkan meski telah memiliki anak
sekalipun, sebab sejarah mencatat bahwa Khadijah ra. dikaruniai beberapa
orang anak dari Rasulullah SAW.
• Aisyah radhiyallahu anha
Sepeninggal
Khadijah, Rasulullah beristrikan Aisyah ra, seorang wanita cerdas, muda
dan cantik yang kiprahnya di tengah masyarakat tidak diragukan lagi.
Posisinya sebagai seorang istri tidak menghalanginya dari aktif di
tengah masyarakat. Semasa Rasulullah masih hidup, beliau sering kali
ikut keluar Madinah ikut berbagai operasi peperangan. Dan sepeninggal
Rasulullah SAW, Aisyah adalah guru dari para shahabat yang memapu
memberikan penjelasan dan keterangan tentang ajaran Islam.
Bahkan
Aisyah ra. pun tidak mau ketinggalan untuk ikut dalam peperangan.
Sehingga perang itu disebut dengan perang unta, karena saat itu Aisyah
ra. naik seekor unta.
Aisyah r.a. diriwayatkan pernah berkata: "Alat pemintal di tangan perempuan lebih baik daripada tombak di tangan lelaki."
* * *
Peran
muslimah, sesungguhnya bukan sekedar pelengkap, pemanis, atau sekedar
peran di belakang layar. Seorang muslimah juga dapat menjalankan
peran-peran strategis.
Wanita karir, level apapun, kian hari kian
merebak. Mulai dari berkarir pada posisi puncak seperti pimpinan
negara, direktur, hingga kondektur bus bahkan tukang becak, tukang ojek
sekalipun. Jaman kini, kaum hawa mulai merambah ke hampir segala bidang
profesi.
Sesuai yang disabdakan Muhammad Rasulullah bahwa “Wanita
adalah tiang Negara !”. Hancur atau majunya suatu Negara tergantung
bagaimana kondisi perempuan yang ada di dalamnya. Seorang penyair bahkan
mengatakan bahwa seorang ibu ibarat sekolah, apabila kamu siapkan
dengan baik. Berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya.
Begitu juga, orang-orang bijak banyak yang mengaitkan keberhasilan para
tokoh dan pemimpin dengan peran dan bantuan kaum wanita lewat ungkapan
“Dibalik keberhasilan setiap pembesar, ada wanita!” Tidak dapat
dipungkiri bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya yang
akan meneruskan tongkat estafet peradaban ini. Tidak heran jika muncul
ungkapan, dibalik kelembutan seorang wanita ia bisa mengayunkan buaian
di tangan kanan dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya.
"Dan
orang laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman yang
setengahnya adalah pemimpin bagi yang setengahnya mereka menyuruh
berbuat yang maruf dan mencegah yang mungkar, mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya mereka itu
akan diberi rakhmat oleh Allah..." (At-Taubah, 9: 71). "Dan Allah
menjanjikan kepada orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan,
syurga-syurga (Adn) yang mengalir didekatnya sungai-sungai, kekal mereka
didalamnya.." (At-Taubah, 9: 72).
Laki-laki
dan perempuan dihargai sama, diberi rakhmat sama dan akan dibalas
dengan syurga sama oleh Allah. Jadi, Islam tidak mendiskriminasikan
wanita, justru sebaliknya, mengharagai sama, tidak ada beda antara
laki-laki dan perempuan.
WANITA KARIR DALAM PANDANGAN NEGARA-NEGARA ISLAM LAINNYA.
Di
Afganistan dan banyak Negara Islam lainnya, wanita tidak memiliki
kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan dan meraih karier mereka
setinggi-tingginya. Wanita dipaksa memakai pakaian yang tidak sesuai
dengan hati nurani dan keinginannya karena aturan kolot agama. Di Arab
Saudi dan negara Timur Tengah lainnya wanita bahkan tidak diperkenankan
mengemudikan mobilnya sendiri. Karier wanita di banyak bidang dibatasi
sehingga wanita hanya
menjadi obyek pemuasan seksual pria secara
egois dan penerus keturunan. Begitu juga dengan poligami yang sangat
melecehkan aspirasi dan HAM wanita yang sebenarnya jauh di hati kecilnya
tak rela dirinya di madu
oleh suami mereka. Adapun masalah poligami
memang Islam tidak melarangnya, tetapi dengan syarat yang sangat berat
yaitu harus berlaku adil.
WANITA KARIR DI JEPANG
Ternyata
masyarakat Jepang telah melaksanakan hidup yang harmonis seperti
dianjurkan Tuhan dan Nabi Muhammad saw, dan dapat membawa negaranya
makmur sejahtera, tiada lagi kemiskinan, tiada lagi orang yang
minta-minta.
Wanita wanita Jepang pada umumnya kalau sudah
menikah, mereka berhenti bekerja dari kantor, dan mencurahkan perhatian
dan waktunya untuk keluarga, dan kalau anak-anaknya sudah besar, tamat
SMP atau SMU, kebanyakan ibu-ibu kembali bekerja di luar rumah untuk
melanjutkan kariernya dan agar ilmu serta tenaganya dapat bermanfaat
untuk orang banyak. Ibu-ibu Jepang ada yang menduduki jabatan tinggi
sebagai menteri.
Mengambil contoh dari Negara sakura bukanlah tanpa alasan, dalam firman Allah swt:
"Aku jadikan manusia berbangsa bangsa dan bersuku-suku, agar kamu satu sama lain saling mengenal."(QS 49: 13).
***
Islam
memberi kesempatan untuk berkarir (bekerja) seluas-luasnya kepada
wanita. Selama pekerjaan itu, membutuhkannya dan atau selama mereka
membutuhkan pekerjaan itu. Selama pekerjaan itu dilakukan dalam suasana
terhormat, sopan, serta selama mereka dapat memelihara agamanya, serta
dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut
terhadap diri dan lingkungannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar